Penulis : Drs. H. Mosleh Habibullah, M.Pd.
Editor : Achamad Baidawi, M. Pd.
Membaca Ulang The Good Earth: Gender, Patriarki, dan Relasi Kuasa di Balik Tanah dan Keluarga
Tanah adalah sumber kehidupan, tetapi juga dapat menjadi simbol kekuasaan. Kekayaan menjanjikan kesejahteraan, tetapi tidak selalu menghadirkan keadilan. Melalui novel The Good Earth karya Pearl S. Buck, kita diajak menyelami kehidupan masyarakat pedesaan Tiongkok dan menyaksikan bagaimana kemiskinan, kepemilikan tanah, tradisi, serta perubahan ekonomi membentuk relasi antarmanusia.
Buku ini mengajak pembaca melampaui kisah perjuangan Wang Lung dalam meraih kemakmuran. Dengan perspektif kritis, pembahasan diarahkan pada struktur patriarki, ketimpangan gender, subordinasi perempuan, perkawinan, kerja domestik, dan dinamika kekuasaan dalam keluarga. Tokoh O-lan menjadi pintu masuk untuk memahami ironi pengorbanan perempuan: kerja keras dan kesetiaannya menopang keberlangsungan keluarga, tetapi tidak selalu memperoleh penghargaan yang sepadan.
Melalui dialog antara sastra dan realitas sosial, buku ini mengungkap bagaimana relasi gender tidak berdiri sendiri, melainkan berkelindan dengan kondisi ekonomi, status sosial, budaya, dan tradisi. Perubahan dari kemiskinan menuju kekayaan pun tidak serta-merta melahirkan hubungan yang lebih adil. Sebaliknya, kemakmuran dapat mengubah cara seseorang memandang keluarga, moralitas, dan sesama.
Ditujukan bagi mahasiswa, akademisi, serta pembaca yang tertarik pada kajian gender, hukum keluarga, sosial, budaya, dan sastra, buku ini menawarkan perspektif untuk membaca The Good Earth secara lebih mendalam dan reflektif. Bukan untuk menghakimi masa lalu dengan ukuran masa kini, melainkan untuk memahami bagaimana kekuasaan bekerja dan bagaimana ketidakadilan dapat bertahan di balik nilai-nilai yang dianggap wajar.
Sebab, di balik cerita tentang tanah, keluarga, dan perjuangan hidup, tersimpan pertanyaan mendasar tentang siapa yang berkuasa, siapa yang berkorban, siapa yang memperoleh pengakuan, dan siapa yang justru terpinggirkan.
Sebuah ajakan untuk membaca ulang sastra, mempertanyakan ketimpangan, dan memandang kehidupan manusia dengan lebih kritis, adil, dan manusiawi.






Reviews
There are no reviews yet.