(Raka Anang AP, Kelas XI ICP MAS Nurul Islam Pungging Mojokerto)

Setiap manusia pasti memiliki impian, cita-cita, dan rencana dalam hidupnya. Saat mereka-reka rencana sering pula dibarengi dengan strategi, menyusun langkah demi langkah agar semua berjalan sesuai harapan. Namun, seringkali realitas berkata lain. Apa yang kita rencanakan tidak selalu terwujud, bahkan terkadang berbalik arah dari apa yang kita inginkan. Gagal total.

Di sinilah kita belajar, bahwa manusia hanya mampu berencana, tetapi Allah Swt-lah yang menentukan hasilnya.

Al-Qur’an menegaskan dalam Surah Al-Anfal ayat 30:

“Mereka membuat tipu daya, dan Allah Swt pun membuat tipu daya. Dan Allah Swt adalah sebaik-baik pembuat tipu daya.”

Ayat ini memberi isyarat bahwa sehebat apapun manusia menyusun rencana, tetap saja rencana Allah Swt yang akan berlaku. Seringkali kita kecewa ketika apa yang diinginkan tidak terjadi. Padahal, bisa jadi Allah Swt menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik. Bukan berarti usaha kita sia-sia, tetapi Allah Swt ingin mengajarkan bahwa tugas kita sebagai hamba-Nya adalah merencanakan yang baik, berikhtiar sesuai kemampuan dan bertawakal pada Pengendali hidup. 

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia baik bagimu; dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia buruk bagimu. Allah Swt mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”

(QS. Al-Baqarah: 216)

Ayat ini mengajarkan bahwa rencana Allah Swt selalu lebih baik dari rencana manusia. Apa yang tampak buruk di mata kita, bisa jadi justru menyelamatkan dari keburukan yang lebih besar. Setiap peristiwa yang menimpa dan menimbulkan rasa kecewa dalam hati, sesungguhnya menyimpan hikmah yang hanya Allah Swt yang Maha Mengetahui.

Perbedaan antara rencana kita dan rencana Allah Swt bukanlah sebuah kegagalan, melainkan ujian keimanan. Allah Swt berfirman dalam QS. Ali Imran ayat 159:

“Maka apabila engkau telah membulatkan tekad, bertawakkallah kepada Allah Swt. Sungguh Allah Swt menyukai orang-orang yang bertawakkal.”

Hikmah yang dapat kita ambil dari ayat di atas adalah pertama, perlunya keseimbangan antara ikhtiyar dan tawakal. Jangan hanya semangat berusaha tapi lupa menyerahkan pada Allah Swt sebaik-baik Perencana. Kedua, Melatih kesadaran diri, menyadari bahwa kemampuan manusia terbatas oleh akal, pengalaman, sehingga bisa mengukur untuk selalu bersyukur ketika terkabul dan lapang dada saat belum sesuai harapan. Ketiga, Motivasi untyk terus berusaha, ketika rencana kita berbeda dengan rencana Allah Swt, janganlah putus asa. Percayalah bahwa Allah selalu menyiapkan jalan terbaik, meskipun terkadang sulit dipahami.